Tweet Kopi @RadityaDika
Februari 20th, 2012 § 5 Komentar
Nggak tau kenapa, kopi pertama yang gue minum, selalu memberikan pengaruh besar terhadap mood gue sepanjang hari. Malahan, menyeduh kopi terasa seperti sebuah perjudian bagi gue. Kalo rasanya enak, kopi tersebut bisa jadi mood booster. Tapi lain halnya kalo rasanya menyerupai jus mengkudu. Mood gue bakalan seperti kapal pecah yang kejatuhan bom atom. Nggak karuan.
Kemungkinan besar, bukan cuma gue yang merasakan hal semacam ini, tapi mungkin juga beberapa penggemar kopi lainya. Bahkan untuk seorang @radityadika sekalipun, yang mana berhasil meletakan kaca pembesar diatas kopi, dan menjadikanya sebagai inspirasi.
Berawal dari satu tweet iseng, tertanggal 15 Januari 2012, sewaktu gue tengah menjawab panggilan semesta. (Note: ngetweet sambil boker itu nggak jorok kok, selama nggak ada yang tau)

Eh, nggak taunya, Radith lagi galau. Jadilah, tweet yang tadinya selengean, berubah jadi tweet yang ngena di hati. Berikut ini adalah tweet kopi @radityadika dari 15 januari-25 februari, diurutkan dari yang terbaru. « Read the rest of this entry »
Ade Versus Ageng
Januari 31st, 2012 § 20 Komentar
Adalah Ade Nur Rifa’i, atau temen-temen manggil dia Agus (nama bokapnya). Salah seorang temen gue sewaktu SMP. Bagi gue, punya teman seperti Ade adalah keputusan yang teramat tepat. Karena seperti yang kita ketahui bersama:
Ganteng itu relatif, tergantung siapa yang ada di sebelahnya.
Ade adalah saksi nyata bagaimana gue menghabiskan masa SMP dengan ganteng. Muehueheuheu
Tapi dengan penalaran yang sama, berteman sama gue adalah kesalahan bagi Ade. Ironisnya, Ade sama sekali nggak punya pilihan. Jangankan bertemen dengan selain gue, dia berteman sama Jenglot aja, malah jenglotnya yang kelihatan ganteng.
Namun, agak berbeda dengan hubungan pertemanan pada umumnya, dimana antar teman bakalan saling membangun, pertemanan gue dan Ade malah diisi dengan hujat-menghujat. Tiap ketemu, kita bakalan saling ngata-ngatain. Monyetnya, gue selalu mentok dalam meluncurkan hujatan ke Ade.
Sebagai contoh, sewaktu kita lagi nunggu angkot. Tiba-tiba ada delman lewat.
Gue: “Kamu naik delman aja, De!”
Ade: “Itu kan penuh?”
Gue: “Biasanya juga kamu duduk diantara kuda sama kusirnya, kan?”
Ade: “Berarti diatas kamu dong!”
Niat hati hendak mengatai, apa daya malah dibilang tai Щ(ºДºщ) « Read the rest of this entry »


