Pada Akhirnya, Saya Bermasalah dengan Hal Semacam Ini

Suatu malam, seusai screening film di Kedai Kebun Jogja, Wregas Bhanuteja menjawab pertanyaan penonton untuk filmnya yang barusaja diputar. Salah satu hal yang menarik perhatian saya adalah pernyataanya tentang ‘bentuk dan rasa’.

Saat itu, wregas ditanya tentang kenapa menggunakan bahasa jawa dalam filmnya. Wregas menyebut nama dua tokoh seniman dunia sebagai referensi. Saya tidak ingat dengan pasti nama kedua tokoh tersebut. Saya hanya ingat, kedua seniman itu mempunyai pendapat yang berbeda. Yang satu beranggapan bahwa dalam karya seni, rasa itu lebih penting dari pada bentuk. Sedang pelukis yang lain, beranggapan bahwa bentuk lebih utama dari pada rasa. Baca lebih lanjut

Dunia Akan Berubah Jika Kamu Berubah

Berikut ini tulisan gue setahun lalu, waktu awal kelas XII:

==ll==

Orang bilang,“Dunia akan berubah jika kamu berubah.” Itu semua bohong. Berapa kalipun kamu berubah, dunia akan tetap seperti sekarang. Korupsi, penyuapan, kemacetan, dan berbagai hal suram lain di dunia ini tidak akan berubah. “Dunia akan berubah jika kamu berubah,” hanya berlaku untuk orang-orang berkedudukan presiden atau perwakilan PBB.

Bagi orang-orang biasa, “Dunia akan berubah jika kamu berubah,” hanya istilah lain untuk “Berkompromi dengan dunia.” Baca lebih lanjut

Review: Transformers 4: Age Of Extinction

Gue mengikuti semua seri Transformer, urut dari yang pertama. Dan semuanya gue tonton dari DVD yang gue pinjam di Movie Time. Karena sewaktu SMP, di tempat tinggal gue gak ada bioskop, dan saat SMA, uhuk, gue bingung mau ngajak siapa. Hingga pada akhirnya, kemarin gue berkesempatan menikmati pertarungan para robot itu di layar lebar, nobar, dan dengan perut lapar. Karena lagi puasa, FYI. Baca lebih lanjut

Why I Hate Film Critic

Gue gak pernah mengerti jalan pikiran seorang kiritikus.

Bukan hanya kritikus film, kritikus lain pun gue juga gak ngerti. Sebagai contoh, kritikus makanan.

Pernah suatu kali gue nonton acara lomba masak di TV, dengan tiga orang kritikus -yang ketiganya menyebut diri mereka juri. Salah satu kontestan maju membawa masakannya. Dari tampilannya, makanan itu terlihat mewah dan menggoda selera makan. Namanya pun sangat meyakinkan, ‘Chiken Lavonte Albaguera’ atau apalah itu. Gue yang nonton di TV aja tau kalau masakan itu enak. Enaknya pake banget.

Tapi begitu salah satu juri itu makan, yang dia katakan adalah…

Masakan ini, rasanya kaya… sampah!

Yang terlintas di pikiran gue saat itu hanya satu, “Men, lo biasa makan sampah dimana sih?

Seriusly, kalau ada sampah yang rasanya seenak itu, gue bersedia setiap hari mulung di tempat itu. Serius gue. Baca lebih lanjut