Elegi Tahun Baru

Saya pernah berkali-kali bangun dari mimpi dan merasa kesepian tanpa tahu apa sebabnya. Pasalnya mimpi itu segera terlupakan, sekalipun perasaannya masih tertinggal. Sama persis seperti tahun baru. Maksudnya, saya tak pernah bisa mengingat apa yang saya lakukan pada tahun baru sebelumnya, sekalipun perasaannya masih bisa saya ingat. Dan iya, perasaan itu adalah kesepian. Jangan salah, saya tak bermasalah dengan kesepian. Bisa dibilang saya sudah terbiasa. Mungkin terdengar menyedihkan, padahal ya tidak juga. Herlambang, teman saya yang berhasil lahir karena membuat sperma-sperma lain di belangkangnya diam terpaku akibat kata-kata puitisnya, pernah berandai-andai: bagaimana bila seorang yang alergi laba-laba digigit laba-laba dan menjadi spiderman. Alih-alih menyebut kekuatannya sebagai anugerah, lebih tepat rasanya menyebut itu azab. Saya tertawa mendengarnya. Tawa yang sama keluar dari mulut saya pada malam tahun baru. Hanya saja kali ini saya tertawa sendirian. Tapi sekali lagi, itu bukan masalah..

Yang perlu kau pahami adalah kenapa hal serupa bisa nampak menyedihkan atau pun tidak. Pelacur yang harus menjajakan dirinya karena tekanan ekonomi tentu saja menyedihkan. Tapi bila seorang pelacur melakukannya karena memang menyukainya dan tanpa tekanan sama sekali, apa kau tetap menganggapnya menyedihkan? Mungkin yang beranggapan iya. Saya, setidaknya, tak merasa demikian. Biasa saja. Suatu saat mungkin saya berubah pikiran, tapi tidak sekarang. Tidak tahun baru ini.

Saat SMP saya pernah menulis, “Semua orang selalu lebih dulu mencari-cari hal yang dapat membenarkan dirinya.” Mungkin ini bisa menggambarkan diri saya sekarang. Bisa juga tidak. Dan saya tidak begitu peduli sebenarnya. Selama saya biasa saja dengan kesendirian, toh itu bukan masalah. Seorang ibu-ibu di Afrika yang makan telur ceplok bisa sama bahagianya dengan orang Prancis yang makan hati angsa di restoran bintang lima. Seorang anak SD di pelosok dengan sepatu baru seharga Rp.25.000 bisa sama bahagianya dengan Kemal Pahlevi yang memerkan Yeezy seharga jutaan. Saya justru kasihan pada orang si Prancis dan Kemal Pahlevi karena mereka harus membayar mahal untuk berbahagia. Tapi apa mereka merasa dirinya menyedihkan? Tidak, tentu saja. Saya tidak tahu lebih tepatnya, dan tidak begitu peduli juga sebenarnya.

Yang ingin saya sampaikan, kesepian ini mungkin kan saya rasakan juga bila saya bersama teman-teman, misalkan, menghabiskan tahun baru dipantai. Saya ingat pernah tahun baruan di alun-alun waktu SMP. Kalau tidak salah saya bersama Roja’i, kalau salah saya tidak bisa menyebut nama lain, kenapanya kau bisa tebak sendiri. Alun-alun Banjarnegara ramai sekali waktu itu, dan kembang apinya meriah. Tapi ya biasa saja. Tahun depannya, toh sekalipun saya masih ingat kajadiannya, saya tidak benar-benar yakin itu terjadi tahun lalu. Mimpi memang selalu samar-samar kecuali sangat berkesan. Untuk jenis mimpi yang berkesan, saya bisa menyebutkan dua tahun baru. Pertama saat saya masih SD dan tahun baruan di rumah Eyang Boyolali, bersama saudara-saudara keluarga besar. Kami menggelar kasur di depan TV dan menonton tayangan perdana Harry Potter and The Goblet of Fire. Count down tahun baru kami tonton saat jeda iklan, kemudian lanjut nonton film. Kedua saat saya SMA hanya berdua bersama kakak kedua saya di Banjarnegara. Di rumah kami ada tiga layar yang menyala malam itu, satu TV dan dua laptop -yang menghadap masing-masing. dari kami. Yang menyenangkan adalah saat itu reporter Indonesiar baru mulai menghitung count down padahal TV lain sudah selesai melakukannya di lokasi yang sama. Kami mengolok-ngoloknya dan sama-sama berharap dia tidak dipecat. Bagaimanapun dia cukup cantik, sekalipun saya tidak bisa benar-benar mengingatnya sekarang. Maksudnya, bahkan saat kau bermimpi basah dengan perempuan cantik, kalau kau tidak kenal dengannya, kau tidak bisa mengingatnya dengan jelas bukan? Tapi kau tahu dia cantik. Tentu saya tidak mimpi basah dengannya. Setidaknya saya tidak ingat, kau tau sendiri lah kenapa. Lagi pula saya tetap saja merasa kesepian tahun depannya. Saya memang selalu lupa apa yang lakukan saat tahun baru, tapi tidak dengan perasaan yang tertinggal. Seperti halnya iklan, repetisi membuat sulit dilupakan. Dan karenanya juga saya terbiasa dan nyaman-nyaman saja.

“Kau mungkin tak akan berpikir begitu lagi kalau sudah punya pacar.” Pikiran itu melintas begitu saja saat saya teringat drama korea Goblin yang saya tonton akhir-akhir ini, dan yang episode 8-nya seperti akan menemani saya hingga tahun baru nanti. Saya tidak menutup diri dari kemungkinan itu, tapi toh buat apa mengharapkan sesuatu yang baik sementara sekarang saya juga sudah merasa cukup baik. Manusia perlu berkembang, tapi tidak juga serakah. Tokoh Aku dalam KAMU-nya Sabda Armandio saja merasa bahwa hilangnya satu jari di tangannya justru membuatnya menjadi utuh. Bagi manusia, sempurna bukan hanya berarti tidak kekurangan, tapi juga tidak kelebihan.

Ada satu puisi Joko Pinurbo tentang tahun baru yang benar-benar saya sukai. Judulnya Terompet Tahun baru:

Terompet Tahun Baru

Aku dan Ibu pergi jalan-jalan ke pusat kota
untuk meramaikan malam tahun abru.
Ayah pilih menyepi di rumah saja
sebab beliau harus menemani kalender
pada saat-saat terakhirnya.

Hai, aku menemukan sebuah terompet ungu
tergeletak di pinggir jalan.
Aku segera memungutnya
dan membersihkannya dengan ujung bajuku.
Kutiup berkali-kali, tidak juga berbunyi

“Mengapa terompet ini bisu, Ibu?”
“Mungkin karena terbuat dari kertas kalender, anakku”

(2006)

Kau lihat, bahkan sekalipun pria itu sudah memiliki istri dan seorang anak, ia tetap menghabiskan tahun barunya di rumah bersama kalender. Jadi pikiran saya yang selintas tadi belum tentu benar, sekalipun juga belum tentu salah. Toh. saya tidak begitu peduli juga sebenarnya. Saya belum pernah menulis puisi seperti Herlambang, Abdur dan Hadi. Setidaknya belum pernah menunjukkannya. Saya menganggap puisi sakral dan karena butuh perenungan mendalam yang saya cukup malas untuk melakukannya. Setahun ini saya hanya membuat dua, dan salah satunya ternyata lumayan cocok untuk malam ini. Tidak original sebenarnya, dari puisi yang pernah saya dengar  dan hanya saya ubah kata-katanya. Judulnya Pesta.

Pesta

Para penyendiri berpesta.
Pesta sendiri-sendiri.

(2016)

Kau mungkin tidak begitu peduli juga sebenarnya. Toh kau membacanya, jadi selamat tahun baru.

goblin

Ditulis selagi menunggu download Drama Korea Goblin episode 8 yang ternyata meski kampus sepi internetnya tetap saja lemot.

Iklan

Sejak kecil saya bisa dengan mudah setuju pada apa yang saya terima. Sekarang saya bisa bilang bahwa setuju belum tentu memahami. Dan memahami belum tentu setuju. Lalu ketika saya kurang setuju dengan sebuah penyataan “Masalah tidak pernah salah. Yang penting adalah bagaimana menyikapinya”, seseorang bilang kalau saya terlalu banyak baca filsafat. Padahal belum sekalipun saya pernah membaca satu buku filsafat sampai selesai, dan mungkin saja di luar sana seorang sarjana filsafat langsung setuju bila mendengar pertanyaan itu. Saya merasa lucu.

Dari Marmut, Menjadi Manusia

“I am not sure that I exist, actually. I am all the writers that I have read, all the people that I have met, all the women that I have loved; all the cities I have visited.” – Jorge Luis Borges

Buku pertama yang kemudian membuat saya keranjingan membaca buku adalah Marmut Merah Jambu, Raditya Dika. Saat itu saya masih kelas 3 SMP di Banjarnegara, dan lingkungan saya hidup waktu itu, dan ironisnya juga sampai sekarang, bukan lingkungan membaca. Ibu saya sering membelikan majalah Bobo, namun tidak cukup untuk membuat saya gemar membaca. Kakak-kakak saya mengoleksi komik-komik Tatang Sutarman, namun karena gambarnya mengerikan bagi saya waktu itu, saya tidak pernah menyentuhnya hingga setelah lulus SMP, itupun karena bosan tidak ada kegiatan pasca UN. Masa SMP banyak saya habiskan dengan bermain Facebook, dan membaca manga di internet. Lalu salah satu lawan diskusi saya dalam membicarakan naruto, one piece, ueki, dan sebagainya, membeli Komik Kambing Jantan. Komik itu yang beberapa minggu kemudian mengantarkan saya ke mbak-mbak kasir dengan membawa Marmut Merah Jambu.

Buku itu menjadi buku paling berpengaruh dalam bagi saya sampai empat tahun. Cerita-cerita dalam Marmut Merah Jambu sekalipun sederhana, membuka dunia saya yang selama ini hanya mengenal manga dan acara TV,  dan membuat saya tersadar bahwa ada orang lain di dunia ini yang hidupnya punya kesamaan dengan hidup saya. Saya dulu seperti katak dalam tempurung, dan Marmut Merah Jambu bagaikan palu Thor yang menghancurkan lapisan pertama. Saya membacanya berulang-ulang, terutama bab ‘Ina Mangunkusuma’. Sebagai pecundang dengan kehidupan asmara yang hambar, bab itu bagaikan terapi bagi saya yang tak pernah bosan menggumamkan ‘Njir, ini aku banget.’ Salah satu bab dimana Radit bercerita tentang pembuatan film Kambing Jantan, bahkan menjadi salah satu pilar yang ketika kelas 2 SMA, memantapkan saya untuk menjadi seorang filmmaker dan berkuliah di jurusan film.

Persedian buku di Toko-toko buku Banjarnegara sangat terbatas dan tidak menarik bagi saya. Barulah ketika pindah ke Boyolali ketika SMA, saya punya kesempatan untuk pergi ke Gramedia di Solo. Awalnya hanya saya melengkapi buku-buku Raditya Dika, lalu membel buku-buku komedi lain. Saya menutup diri hanya pada penerbit Bukune, yang konsisten menerbitkan buku-buku komedi yang saya suka. Lalu mulai melebar membaca buku-buku Gagasmedia, seperti Adhitya Sofyan. Internet mempermudah saya mengenali para penulis buku ini. Saya saat itu semacam terdoktrin oleh pendapat para penulis ini yang pendapatnya sama: buku tidak harus ditulis dengan bahasa sastra yang berat. Saya belum pernah menyentuh sastra, guru di sekolah juga tidak memperkenalkan sastra dengan menyenangkan, sehingga saya menjadi pribadi yang jauh dari sastra. Bahkan ketika buku-buku mulai komedi membuat saya jenuh dengan lawakan yang mudah terbaca dan cara penulisan yang seringkali tidak rapih, saya tetap tidak menyentuh sastra (saya meminjam Kafka on The Shore, Murakami dan ternyata otak saya belum memadai) dan melarikan diri pada film, hingga kini menjadi anak film. Buku yang saya baca juga menjadi sebatas buku-buku film.

Berkah utama yang saya syukuri sebagai mahasiswa film di ISI Jogja adalah terbukanya dunia saya. Diskusi-diskusi film yang selalu saya datangi sedikit demi sedikit membuat saya semakin tidak tertutup pada hal-hal di luar bidang yang saya gemari. Awalnya saya jadi tertarik pada science, lalu psikologi, hingga kemudian sastra dan filsafat. Ketertarikan saya yang muncul terakhir ini membuat saya mampir di lapak buku depan BNI KM 0, dan membeli Bumi Manusia, Pramoedya Ananta Toer. Kagum juga, karena buku yang tidak memungkinkan untuk saya beli di Gramedia, bisa berada di tangan saya hanya dengan Rp.20.000 setelah sedikit SSI (Speak Speak Iblis) dengan penjualnya.

Jujur saja, buku ini berat, terutama karena transisi yang besar dari buku-buku bacaan saya sebelumnya yang hanya teenlit. Namun saya menemukan keindahan dalam membaca kata-kata yang berat dan tidak seenaknya ini. Ada kualitas tersendiri yang menggerakkan sesuatu dalam diri saya untuk terus membacanya, sekalipun melelahkan. Bumi Manusia menjadi perkenalan saya terhadap sastra. Yang memnggugah diri saya bukan hanya tentang bagaimana buku ini di tulis (teks), tapi juga apa yang dibicarakan oleh buku ini (konteks). Sastra adalah karya yang penting dan tidak main-main. Penuh pertimbangan dan menyuarakan sesuatu yang berharga.

Alih-alih melanjutkan tetralogi, saya mencoba untuk membaca satra yang lain. Saya tidak ingin seperti sebelumnya, suka Marmut Merah Jambu dan kemudian membaca seluruh buku Radit. Itu membuat saya menutup diri pada genre dan penerbit tertentu. Saya bertanya pada teman-teman lain, dan mencari di internet tentang nama-nama yang dikenal dalam sastra Indonesia. Bertemulah saya dengan Sapardi, lalu Eka Kurniawan. Saya memulai dengan membeli Trilogi dan Lelaki Harimau. Trilogi Soekram menghadirkan kemungkinan baru yang meski pernah saya bayangkan, tapi tak pernah sejauh itu. Lelaki Harimau membuat saya kelelahan meski bukunya tipis, tapi sekali lagi saya memperoleh kualitas yang berharga, keasyikan yang tidak biasa.

Saat ini saya tengah melengkapi buku-buku Sapardi dan Eka Kurniawan. Juga beberapa buku puisi, seperti Khairil Anwar, Joko Pinurbo, Wiji Tukul, juga Sapardi. Saya belum membaca buku-buku dari sastrawan, yang berdasarkan informasi di Internet, menjadi kanon kesusastraan Indonesia, seperti misalnya Ahmad Tohari. Karena usai membaca Seperti Rindu, Dendam Harus Dibayar Tuntas dan Cantik Itu Luka, saya segera tertarik pada sastra dunia. Saya mengawali dari buku-buku terjemahan Jaya Pustaka yang kini diterbitkan ulang oleh KPG. Membaca sastra dari Jepang sungguh memerlukan upaya besar, seperti Rahasia Hati (Natsume Soseki) dan Rumah Perawan (Yasunari Kawabata). Semacam melakukan meditasi yang menuntut konsentrasi penuh. Saya berniat membaca Daerah Salju (Yasunari Kawabat) namun merasa bahwa membaca tiga sastra jepang berturut-turut mungkin akan membuat saya menyerah membaca, sehingga saya mencoba beralih ke barat dan bertemu Gempa Waktu (Kurt Vonnegut) dan Dataran Tortilla (John Steinbeck). Keduanya menyenangkan sekalipun berlawanan. Vonnegut bergerak dalam fiksi ilmiah yang menawarkan konsep-konsep liar, namun bukan sebatas liar, tapi juga mengandung visi dan ideologi yang mengkritik gaya hidup. Saya senang dengan kalimat yang berulang kali diungkapkannya, “Jangan menganggap dirimu penting!” Ha ha ha. Sementara Steinbeck bermain dengan anti kemapanan dan semacam realisme magis (sebelumnya saya pelajari saat membaca Cantik Itu Luka). Membaca Dataran Tortilla membuat saya merasa menyadari bahwa manusia pada dasarnya tidak memiliki apa-apa.

Sedikit cerita, seusai saya membaca Dataran Tortilla, saya mendapati kamera DSLR saya raib dari kamar kost. Yang saya rasakan adalah tenang-tenang saja, entah kenapa. Saya mengingat kelakuan Danny dan teman-temannya yang gemar mencuri dan menjalani hidup dengan itu namun tetap dihargai masyarakatnya. Sepertinya terpengaruh dengan tulisan itu, saya begitu mudah mengikhlaskan, apalagi di bulan yang sama teman satu kost saya juga kemalingan. Saya bersikap tenang-tenang saja, paling hanya bingung melapor pada keluarga. Hingga beberapa hari kemudian saya menemukan kamera itu di kost teman, yang berniat mengerjai saya. Dia sendiri malah heran kenapa saya biasa-biasa saja selama beberapa hari itu.

George Orwell melalui 1984 mengajarkan saya akan suatu kemungkinan yang tak pernah saya pedulikan. Buku itu membuka mata saya tentang negara dan masyarakat, dan yang terpenting memancing saya untuk meliki keinginan memahami kapitalis, sosialis, komunis, fasis, dan sebagainya. Termasuk kemudian membuat saya membaca Dunia Sophie, yang tentu saja saya dapatkan di lapak buku depan BNI KM 0.

Kedepannya, saya ingin mendalami dunia kesusastraan yang sepertinya memang tidak ada habisnya. Ada begitu banyak nama yang semakin lama semakin bertambah semakin saya membaca buku. Saya sedang membaca Kafka on The Shore, yang untung saja mulai dapat saya nikmati. Dan saya juga tengah membuat semacam peta membaca untuk selanjutnya akan membaca siapa saja. Nama-nama seperti Jorge Luis Borges atau Gabriel Garcia Margues sudah sulit saya temukan di gramed dan toko buku lain di Jogja, yang masih mudah ditemukan paling Franz Kafka.

Saya cenderung membaca buku berdasarkan siapa penulisnya ketimbang apa judulnya. Seseorang pernah bilang pada saya, lebih baik berinvestasi pada orang dari pada konsep. Saya brusaha untuk sebisa mungkin tidak menutup diri pada buku apapun, hanya pertimbangan saya, bila memang saya perlu menginvestasikan banyak waktu untuk membaca, apa yang saya baca harus jelas. Tapi sebagaimana film, buku selalu membuka kemungkinan baru. Saya yang sudah cukup anti dengan roman picisan, begitu bertemu Dilan tetap juga kegirangan.

Kalau saya tidak salah ingat, Kafka Pernah menulis, “Buku seharusnya menjadi kapak untuk memisahkan laut yang membeku diantara kita.” Sebagai orang yang tidak lahai dalam kehidupan bersosial, dan sulit mengemukakan pendapat melalui berbiacara dimana setiap orang hanya ingin mendengarkan apa yang ada di dalam kepalanya sendiri, membaca adalah cara yang paling mudah bagi saya untuk menyadari bahwa saya tidak sendirian. Bahwa ada juga yang seperti saya di luar sana, sebelum saya, dan bisa jadi pemikirannya sudah lebih matang.

 

Ditulis untuk ‘Aku dan Buku’ sebagai persyaratan volunter Radiobuku.com

Cuci Gudang

Pemusnahan buku umumnya terjadi atas kepentingan rezim di masa itu, tidak peduli pengaruhnya akan dirasakan oleh rezim-rezim sesudahnya. Sepengetahuan saya, yang terbatas dan bisa  salah tentu saja, rezim yang membiarkan buku-buku terbakar semuanya mirip-mirip. Setidak-tidaknya, pola tujuan rezim-rezim ini serupa; mencegah berkembangnya pengetahuan yang kelak dapat membuat rezim tersebut runtuh. Dari penghancuran buku-buku orang islam oleh romawi, hingga pembakaran buku-buku komunis pada rezim Soeharto.

Sebenarnya saya hanya ingin bilang kalau saya tidak ingin menjadi semacam rezim yang memusnahkan buku-buku, dengan menghapus tulisan-tulisan saya. Meski saya cukup khawatir karena tulisan-tulisan lama saya (yang ditulis tanpa mengenal malu) berpotensi meruntuhkan harga diri saya dimasa mendatang bila dibaca oleh seorang yang saya kenal. Namun saya percaya, cara yang benar untuk menghadapi pengetahuan yang bertentangan bukanlah dengan menghilangkannya, tapi dengan memperkaya pengetahuan yang sudah ada dengan terus menambah pengetahuan baru. Menghilangkan arsip justru menghambat berkembangnya pengetahuan baru bukan?

Demikian, saya mengosongkan blog ini dan memindahkan tulisan-tulisan lama saya ke

http://agengdulu.wordpress.com

Saya sangat terbantu  oleh fasilitas export-import postingan di wordpress. Seandainya para dukun zaman dulu lebih memilih memindahkan buku-buku ke dalam tanah dan bukannya paku ke dalam perut, membiarkan kata-kata hilang terbawa angin, mungkin saat ini lebih banyak orang yang bepikir selagi menggali pasir dari pada duduk diam menggapai angan.