Lem Gila, Etgar Keret

the-girl-on-the-fridge

Istriku bilang, “Jangan sentuh,” dan kutanya, “Ini apa?”

“Itu lem,” katanya. “Lem special. Lem super.”

Dan kutanya: “Buat apa kau beli itu?”

“Karena aku butuh,” katanya. “Aku punya banyak hal untuk dilem.”

“Tidak ada yang perlu dilem,” bentakku. “Aku tidak paham kenapa kau beli semua omong kosong ini?”

“Alasannya sama dengan kenapa aku menikahimu,” dia membalik “membunuh waktu.”

Aku sedang tidak ingin bertengkar, jadi aku tetap diam, dan begitupun dia. “Apa bagus, lemnya?” tanyaku. Da memperlihatkan padaku gambar di sebuah box, dengan seorang lelaki bergantung terbalik di langit-langit setelah seseorang memoleskan lem ke alas sepatunya.

“Tidak ada lem yang bisa membuat orang menempel seperti itu,” kataku. “Mereka mengambil gambarnya terbalik. Dia berdiri di lantai. Mereka hanya menempel perabot ringan di lantai untuk membuatnya terlihat seperti langit-langit, Kau bisa mengetahuinya dengan merlihat pada jendela. Mereka meletakkan jepitan di bagian bawah tirai. Lihatlah!” Aku menunjuk jendela dalam gambar. Dia tidak melihatnya. “Sudah jam delapan,” kataku “Aku harus bergegas.” Aku mengambil tas jinjingku dan mencium istriku tepat di pipi. “Aku akan pulang telat. Aku–“

“Aku tahu,” sergahnya, “kau sibuk.”

Aku menelpon Mindy dari kantor. “Aku tidak bisa hari ini,” kataku “Aku harus pulang cepat.”

“Bagaimana bisa? Apa semuanya baik-baik saja?”

“Tidak. Maksudku, ya. Kupikir dia mencurigai sesuatu.” Ada hening yang panjang. Aku bisa mendengar Mindy bernapas di seberang sana.

“Aku tidak mengerti kenapa kau tetap bersamanya,” dia berbisik “Kalian berdua tidak pernah melakukan apapun. Kalian bahkan tidak memperdulikan perkelahian lagi. Aku tidak bisa membayangkan kenapa kalian jadi seperti ini. Aku hanya tidak mengerti apa yang menahan kalian terus bersama. Aku tidak mengerti,” katanya lagi. “Aku hanya tidak mengerti…” dan dia mulai menangis.

“Jangan menangis, Mindy,” kataku padanya. “Dengar,” Aku berbohong. “Seseorang datang. Aku harus pergi. Aku akan datang besok, janji. Kita akan bicara nanti.”

Aku pulang cepat. Aku bilang halo ketika melangkah di pintu, tapi tidak ada jawaban. Aku berjalan dari ruangan ke ruangan. Dia tidak ada di manapun. Di meja dapur aku menemukan wadah lem, benar-benar kosong. Kucoba menarik salah satu kursi untuk duduk. Tidak bergeser. Kucoba lagi. Tidak bergerak. Istriku mengelemnya ke lantai. Kulkas tidak mau dibuka. Dia mengelem tutupnya. Aku tidak bisa mengerti kenapa dia melakukan tindakan seperti ini. Dia selalu nampak logis dan waras. Ini hanya tidak seperti dirinya. Aku pergi ke ruang tamu untuk mengambil telpon. Kupikir dia pergi ke rumah ibunya. Aku tidak bisa mengangkat receiver. Dia mengelem bawahnya juga. Geram, aku menendang meja telpon dan hampir mematahkan jari kakiku. Mejanya tidak bergeser.

Itu ketika aku mendengar istriku tertawa. Suaranya datang dari atas. Aku menoleh, dan di sana dia, tergantung terbalik, kaki telanjangnya menempel ke langit-langit ruang tamu. Aku menatapnya, terpukau. “Anjrit. Apa kau kehilangan akal sehatmu?” Ia tidak menjawab, hanya tersenyum. Senyumnya Nampak sangat natural, caranya bergelantung, bagaikan bibirnya adalah subjek grafitasi. “Jangan khawatir,” kataku. “Aku akan menurunkanmu,” dan aku menarik beberapa buku dari rak. Aku menumpuk beberapa volume ensiklopedia dan berdiri di puncak tumpukan. “Ini mungkin sedikit sakit,” kataku, mencoba mempertahankan keseimbangan. Ia tersenyum. Aku menarik sekuat yang kubisa, tapi tidak terjadi apa-apa. Berhati-hati, aku turun. “Jangan khawatir,” kataku. “Aku akan pergi ke rumah tetangga untuk menelpon bantuan.”

“Baiklah,” katanya dan tertawa. “Aku tidak akan kemana-mana.” Aku jadi ikut tertawa. Ia sangat cantik, dan sangat tak layak, tergantung terbalik pada langit-langit begitu. Dengan rambutnya terjurai ke bawah, dan payudaranya tercetak seperti dua tetes air mata yang sempurna di bawah kaos putihnya. Sangat cantik. Aku memanjat lagi ke puncak buku dan menciumnya. Aku merasakan lidahnya di lidahku. Buku-buku tergelincir dari bawah kakiku sementara aku tergantung di udara, tidak menyentuh apapun, bergelantung hanya dari bibirnya.

Diceritakan ulang dari cerpen Etgar Keret berjudul ‘Crazy Glue’ di buku ‘The Girl On The Fridge’. Dialihbahasan dari Hebrew ke inggrish oleh Miriam Shiesinger & Sondra Silverston

Bro.. komennya bro Щ(º_ºщ) #pengemiskomen

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s