Dari Marmut, Menjadi Manusia

“I am not sure that I exist, actually. I am all the writers that I have read, all the people that I have met, all the women that I have loved; all the cities I have visited.” – Jorge Luis Borges

Buku pertama yang kemudian membuat saya keranjingan membaca buku adalah Marmut Merah Jambu, Raditya Dika. Saat itu saya masih kelas 3 SMP di Banjarnegara, dan lingkungan saya hidup waktu itu, dan ironisnya juga sampai sekarang, bukan lingkungan membaca. Ibu saya sering membelikan majalah Bobo, namun tidak cukup untuk membuat saya gemar membaca. Kakak-kakak saya mengoleksi komik-komik Tatang Sutarman, namun karena gambarnya mengerikan bagi saya waktu itu, saya tidak pernah menyentuhnya hingga setelah lulus SMP, itupun karena bosan tidak ada kegiatan pasca UN. Masa SMP banyak saya habiskan dengan bermain Facebook, dan membaca manga di internet. Lalu salah satu lawan diskusi saya dalam membicarakan naruto, one piece, ueki, dan sebagainya, membeli Komik Kambing Jantan. Komik itu yang beberapa minggu kemudian mengantarkan saya ke mbak-mbak kasir dengan membawa Marmut Merah Jambu.

Buku itu menjadi buku paling berpengaruh dalam bagi saya sampai empat tahun. Cerita-cerita dalam Marmut Merah Jambu sekalipun sederhana, membuka dunia saya yang selama ini hanya mengenal manga dan acara TV,  dan membuat saya tersadar bahwa ada orang lain di dunia ini yang hidupnya punya kesamaan dengan hidup saya. Saya dulu seperti katak dalam tempurung, dan Marmut Merah Jambu bagaikan palu Thor yang menghancurkan lapisan pertama. Saya membacanya berulang-ulang, terutama bab ‘Ina Mangunkusuma’. Sebagai pecundang dengan kehidupan asmara yang hambar, bab itu bagaikan terapi bagi saya yang tak pernah bosan menggumamkan ‘Njir, ini aku banget.’ Salah satu bab dimana Radit bercerita tentang pembuatan film Kambing Jantan, bahkan menjadi salah satu pilar yang ketika kelas 2 SMA, memantapkan saya untuk menjadi seorang filmmaker dan berkuliah di jurusan film.

Persedian buku di Toko-toko buku Banjarnegara sangat terbatas dan tidak menarik bagi saya. Barulah ketika pindah ke Boyolali ketika SMA, saya punya kesempatan untuk pergi ke Gramedia di Solo. Awalnya hanya saya melengkapi buku-buku Raditya Dika, lalu membel buku-buku komedi lain. Saya menutup diri hanya pada penerbit Bukune, yang konsisten menerbitkan buku-buku komedi yang saya suka. Lalu mulai melebar membaca buku-buku Gagasmedia, seperti Adhitya Sofyan. Internet mempermudah saya mengenali para penulis buku ini. Saya saat itu semacam terdoktrin oleh pendapat para penulis ini yang pendapatnya sama: buku tidak harus ditulis dengan bahasa sastra yang berat. Saya belum pernah menyentuh sastra, guru di sekolah juga tidak memperkenalkan sastra dengan menyenangkan, sehingga saya menjadi pribadi yang jauh dari sastra. Bahkan ketika buku-buku mulai komedi membuat saya jenuh dengan lawakan yang mudah terbaca dan cara penulisan yang seringkali tidak rapih, saya tetap tidak menyentuh sastra (saya meminjam Kafka on The Shore, Murakami dan ternyata otak saya belum memadai) dan melarikan diri pada film, hingga kini menjadi anak film. Buku yang saya baca juga menjadi sebatas buku-buku film.

Berkah utama yang saya syukuri sebagai mahasiswa film di ISI Jogja adalah terbukanya dunia saya. Diskusi-diskusi film yang selalu saya datangi sedikit demi sedikit membuat saya semakin tidak tertutup pada hal-hal di luar bidang yang saya gemari. Awalnya saya jadi tertarik pada science, lalu psikologi, hingga kemudian sastra dan filsafat. Ketertarikan saya yang muncul terakhir ini membuat saya mampir di lapak buku depan BNI KM 0, dan membeli Bumi Manusia, Pramoedya Ananta Toer. Kagum juga, karena buku yang tidak memungkinkan untuk saya beli di Gramedia, bisa berada di tangan saya hanya dengan Rp.20.000 setelah sedikit SSI (Speak Speak Iblis) dengan penjualnya.

Jujur saja, buku ini berat, terutama karena transisi yang besar dari buku-buku bacaan saya sebelumnya yang hanya teenlit. Namun saya menemukan keindahan dalam membaca kata-kata yang berat dan tidak seenaknya ini. Ada kualitas tersendiri yang menggerakkan sesuatu dalam diri saya untuk terus membacanya, sekalipun melelahkan. Bumi Manusia menjadi perkenalan saya terhadap sastra. Yang memnggugah diri saya bukan hanya tentang bagaimana buku ini di tulis (teks), tapi juga apa yang dibicarakan oleh buku ini (konteks). Sastra adalah karya yang penting dan tidak main-main. Penuh pertimbangan dan menyuarakan sesuatu yang berharga.

Alih-alih melanjutkan tetralogi, saya mencoba untuk membaca satra yang lain. Saya tidak ingin seperti sebelumnya, suka Marmut Merah Jambu dan kemudian membaca seluruh buku Radit. Itu membuat saya menutup diri pada genre dan penerbit tertentu. Saya bertanya pada teman-teman lain, dan mencari di internet tentang nama-nama yang dikenal dalam sastra Indonesia. Bertemulah saya dengan Sapardi, lalu Eka Kurniawan. Saya memulai dengan membeli Trilogi dan Lelaki Harimau. Trilogi Soekram menghadirkan kemungkinan baru yang meski pernah saya bayangkan, tapi tak pernah sejauh itu. Lelaki Harimau membuat saya kelelahan meski bukunya tipis, tapi sekali lagi saya memperoleh kualitas yang berharga, keasyikan yang tidak biasa.

Saat ini saya tengah melengkapi buku-buku Sapardi dan Eka Kurniawan. Juga beberapa buku puisi, seperti Khairil Anwar, Joko Pinurbo, Wiji Tukul, juga Sapardi. Saya belum membaca buku-buku dari sastrawan, yang berdasarkan informasi di Internet, menjadi kanon kesusastraan Indonesia, seperti misalnya Ahmad Tohari. Karena usai membaca Seperti Rindu, Dendam Harus Dibayar Tuntas dan Cantik Itu Luka, saya segera tertarik pada sastra dunia. Saya mengawali dari buku-buku terjemahan Jaya Pustaka yang kini diterbitkan ulang oleh KPG. Membaca sastra dari Jepang sungguh memerlukan upaya besar, seperti Rahasia Hati (Natsume Soseki) dan Rumah Perawan (Yasunari Kawabata). Semacam melakukan meditasi yang menuntut konsentrasi penuh. Saya berniat membaca Daerah Salju (Yasunari Kawabat) namun merasa bahwa membaca tiga sastra jepang berturut-turut mungkin akan membuat saya menyerah membaca, sehingga saya mencoba beralih ke barat dan bertemu Gempa Waktu (Kurt Vonnegut) dan Dataran Tortilla (John Steinbeck). Keduanya menyenangkan sekalipun berlawanan. Vonnegut bergerak dalam fiksi ilmiah yang menawarkan konsep-konsep liar, namun bukan sebatas liar, tapi juga mengandung visi dan ideologi yang mengkritik gaya hidup. Saya senang dengan kalimat yang berulang kali diungkapkannya, “Jangan menganggap dirimu penting!” Ha ha ha. Sementara Steinbeck bermain dengan anti kemapanan dan semacam realisme magis (sebelumnya saya pelajari saat membaca Cantik Itu Luka). Membaca Dataran Tortilla membuat saya merasa menyadari bahwa manusia pada dasarnya tidak memiliki apa-apa.

Sedikit cerita, seusai saya membaca Dataran Tortilla, saya mendapati kamera DSLR saya raib dari kamar kost. Yang saya rasakan adalah tenang-tenang saja, entah kenapa. Saya mengingat kelakuan Danny dan teman-temannya yang gemar mencuri dan menjalani hidup dengan itu namun tetap dihargai masyarakatnya. Sepertinya terpengaruh dengan tulisan itu, saya begitu mudah mengikhlaskan, apalagi di bulan yang sama teman satu kost saya juga kemalingan. Saya bersikap tenang-tenang saja, paling hanya bingung melapor pada keluarga. Hingga beberapa hari kemudian saya menemukan kamera itu di kost teman, yang berniat mengerjai saya. Dia sendiri malah heran kenapa saya biasa-biasa saja selama beberapa hari itu.

George Orwell melalui 1984 mengajarkan saya akan suatu kemungkinan yang tak pernah saya pedulikan. Buku itu membuka mata saya tentang negara dan masyarakat, dan yang terpenting memancing saya untuk meliki keinginan memahami kapitalis, sosialis, komunis, fasis, dan sebagainya. Termasuk kemudian membuat saya membaca Dunia Sophie, yang tentu saja saya dapatkan di lapak buku depan BNI KM 0.

Kedepannya, saya ingin mendalami dunia kesusastraan yang sepertinya memang tidak ada habisnya. Ada begitu banyak nama yang semakin lama semakin bertambah semakin saya membaca buku. Saya sedang membaca Kafka on The Shore, yang untung saja mulai dapat saya nikmati. Dan saya juga tengah membuat semacam peta membaca untuk selanjutnya akan membaca siapa saja. Nama-nama seperti Jorge Luis Borges atau Gabriel Garcia Margues sudah sulit saya temukan di gramed dan toko buku lain di Jogja, yang masih mudah ditemukan paling Franz Kafka.

Saya cenderung membaca buku berdasarkan siapa penulisnya ketimbang apa judulnya. Seseorang pernah bilang pada saya, lebih baik berinvestasi pada orang dari pada konsep. Saya brusaha untuk sebisa mungkin tidak menutup diri pada buku apapun, hanya pertimbangan saya, bila memang saya perlu menginvestasikan banyak waktu untuk membaca, apa yang saya baca harus jelas. Tapi sebagaimana film, buku selalu membuka kemungkinan baru. Saya yang sudah cukup anti dengan roman picisan, begitu bertemu Dilan tetap juga kegirangan.

Kalau saya tidak salah ingat, Kafka Pernah menulis, “Buku seharusnya menjadi kapak untuk memisahkan laut yang membeku diantara kita.” Sebagai orang yang tidak lahai dalam kehidupan bersosial, dan sulit mengemukakan pendapat melalui berbiacara dimana setiap orang hanya ingin mendengarkan apa yang ada di dalam kepalanya sendiri, membaca adalah cara yang paling mudah bagi saya untuk menyadari bahwa saya tidak sendirian. Bahwa ada juga yang seperti saya di luar sana, sebelum saya, dan bisa jadi pemikirannya sudah lebih matang.

 

Ditulis untuk ‘Aku dan Buku’ sebagai persyaratan volunter Radiobuku.com

2 pemikiran pada “Dari Marmut, Menjadi Manusia

    1. Ada mas Agung! Lama gak bersapa haha
      Iya, nyasarnya ke ISI, tapi cuma mahasiswa biasa, yang lebih keren banyak. Mas Agung udah lulus ya?
      Semoga~

Bro.. komennya bro Щ(º_ºщ) #pengemiskomen

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s